DEBAR DI LINTAS MANGGALA KRIDA.



  Debar di Lintas Manggala Krida……

Sore itu, 31 Desember 2023, langit Pekalongan sedikit mendung, memberikan udara sejuk yang pas untuk berolahraga. Aku dan Bila memutuskan untuk menghabiskan hari terakhir tahun ini dengan jogging di Stadion Manggala Krida. Kami tidak sendirian, ratusan orang juga punya ide yang sama, berusaha membakar kalori sebelum pesta perayaan malam nanti. 

Setelah beberapa putaran yang cukup melelahkan, kami memutuskan untuk beristirahat. Kami duduk di pinggiran stadion, mengatur napas sambal memperhatikan lalu Lalang orang yang masih semangat berlari.“Rame banget ya bil” kataku sambal menyeka keringat. 

“Namanya juga akhir tahun, ma. Semua orang pengen ngerasa sehat sebelum makan besar nanti malam” jawab bila dengan santai.

Pandanganku menyapu kerumunan hingga mataku tertuju pada seorang laki-laki. Ia mengenakan kaos biru tua, celana pendek hitam, dan sepasang earphone yang menyumpal telinganya. Jangtungku tiba tiba berdegup tidak karuan.Postur tubuh itu, cara jalannya…… sangat familiar. Sudah hampir dua tahun aku tidak melihat sosok itu sejak kami memutuskan untung masing-masing.

“Bil,Bil….. liat deh cowok itu” bisikku sambal menyikut lengan bila. 

“Kayaknya itu dia, deh.” Bila menyipitkan mata, mencoba mengikuti arah telunjukku.

 “Ah, masa sih? Kayaknya bukan, deh agak beda.” “Tapi mirip banget, Bil coba deh liat belakang hpnya warna apa? Kalau merah berarti beneran dia,” Desakku. 

 “Itu belakang hp punya dia warna putih bening bukan merah ma, ngga percaya sii udah tak bilangin bukan dia,” Desak Bila.

 “Ish engga bill itu dia hpnya warna merah,” Kataku sambal menyenggol Bila.

“Yau udah, dari pada penasaran, coba telepon. Kalau diangkat, berarti bener dia,” tantang Bila.

 Dengan sedikit gemetar, aku merogoh ponsel disaku. Mencari nama yang sudah lama tidak kusapa. Aku menekan tombol panggil. Hening. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Aku mendesah kecewa sekaligus lega. Mungkin memang hanya mirip. Tapi rasa pensaran itu tidak hilang. Akhirnya, aku dan Bila memutuskan untuk turun lagi ke lapangan. Kampi pura-pura lanjut jogging, padahal tujuan utamannya hanya satu, memastikan identitas si kaos biru tua itu.

Saat kami sudah cukup dekat, Bila yang memang lebih nekat tiba-tiba berteriak kecil, “Nizar!” Laki-laki itu berhenti. Ia menoleh, melepas earphone-nya, dan tersenyum lebar. Deg! Ternyata benar. Itu Nizar. 

“Oi, Ran! Sama siapa?” sapanya dengan nada yang masih sama seperti dulu. 

 Aku sempat tertegun sejenak sebelum menjawab. “Oh, ini… sama Bila.” “Oh, sama Lidia juga ya?” lanjutnya sambal mengangguk sopan kearah kami. Pertemuan itu terasa singkat dan canggung bagiku, tapi Nizar tampak santai. Kami hanya berbasa-basi sebentar sebelum aku dan Bila pamit untuk keluar mencari makan karena perut sudah mulai keroncongan. Nizar melambaikan tangan dan melanjutkan joginggnya. 


Reuni Tak Terduga

 Sambil menunggu pesanan makanan datangm pikiranku masih tertinggal di lintas lari tadi. Bila yang menyadari wajah melamunku langsung menyenggol bahuku. “Telepon lagi gih. Ajak gabung ke sini. Tanggung kan, mumpung ketemu di hari terakhir tahun ini,” goda Bila.

“Eh? Emang dia mau?”

 “Coba aja dulu.”

Aku mencoba menghubungi nomornya lagi, dan kali ini tersambung. Di ujung telepon, suara Nizar terdengar renyah. Tanpa diduga, dia mengiyakan ajakanku. Tak lama kemudian, sosok kaos biru tua itu muncul di depan meja kami. Sore itu, di antara aroma makanan dan hiruk pikuk kota, kami duduk bertiga. Cerita-cerita yang tertunda selama dua tahun terakhir mengalir begitu saja.

 Tentang kesibukannya, tentang kabarku, dan tentang hal-hal kecil yang terlewatkan selama kami asing. Ternyata, takdir punya cara yang lucu untuk menutup tahun 2023: mempertemukanku Kembali dengan masa lalu ditempat yang tidak terduga.


Penulis : Rahma Maulidia

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama