Siang itu awan terlihat mendung. Awan biru perlahan berubah menjadi hitam pekat di sudut cakrawala. Di sana, aku duduk sendirian menatap sepeda berwarna biru yang masih tersimpan di ruangan belakang rumahku. Kenangannya masih terasa akrab, seolah mengajak ingatanku kembali ke arloji masa lalu.
Sepeda ini tidak pernah berubah. Model keranjangnya tetap klasik, pelananya masih empuk saat diduduki, dan warnanya masih sama biru, meski sedikit memudar. Dulu, sepeda ini menjadi saksi banyak cerita, terutama tentang kami.
Aku ingat, setiap sore kami selalu bersepeda menikmati desa ini. Kami tertawa lepas setelah susah payah mengeja rangkaian huruf hijaiyah. Entah mengapa, aku selalu menunggumu untuk pulang bersama meski kamu selalu mendapat antrean terakhir saat itu.
Kini, hanya sepeda biru itu yang terus mengingatkanku betapa lucunya masa kecil kita. Namun perlahan, kenangan itu menimbulkan rasa perpisahan yang tenggelam oleh kedewasaan. Setiap roda yang berputar seolah memutar kembali kenangan berupa tawa ringan, obrolan sederhana, dan rencana-rencana yang tak pernah sempat terwujud. Sepeda biru itu masih terasa ramai, tetapi hatiku justru hampa.
Aku mengayuhnya perlahan. Lelah. Namun anehnya, ada rasa ceria yang ikut menjelma. Mungkin benar, tidak semua rasa lelah harus dihindari. Ada pelajaran yang bisa dipahami setelah kita berani merasakannya.
Saat hujan mulai turun, aku berdiri menatap langit sambil bergumam. "Sepeda biru itu masih tetap di sini, namun tidak dengan kenangan yang telah dilenyapkan begitu saja oleh waktu." Perlahan, kenangan itu kulepaskan meski belum sepenuhnya mereda di pikiranku.
Sepeda biru itu mengajarkanku tentang betapa berharganya setiap momen dalam kehidupan. Roda akan selalu berputar meski kita hanya mengayuh perlahan. Dan masa dewasa akan selalu datang pada generasi selanjutnya.
Penulis : Khoirina Muqtafia.
Editor : Nadia Fitriani
Tags:
cerpen
