Kala pagi itu aku bernaung diantara desir ombak yang bergulung
pepohonan menari-nari disertai kicauan burung. Aku sangat terperangah melihat keindahan sebuah motor vespa yang terpakir dipantai dengan nuansa langit yang mendukung.
Kamu bisa memanggilnya dengan sebutan "Birla" tiba-tiba pada saat itu, terlintas begitu saja nama tersebut dipikiran ku, karena aku tidak sengaja melihat warna yang sangat amat teramat cantik dari keindahan (cakrawala azure) nama yang sederhana dari sebuah keindahan warna "biru langit", yaa sejak saat itu aku menamainya dengan sebutan birla sebuah nama yang lahir dari warna biru langit warna yang tenang, lembut, dan sulit dijelaskan alasannya mengapa aku begitu menyukainya. Bahkan aku merasa warna itu seindah “pemiliknya"
Birla memang hanyalah vespa klasik sederhana, namun ada banyak hal yang tumbuh bersamanya. Rasa suka yang datang perlahan, perjalanan yang tidak selalu harus cepat, hingga cerita-cerita kecil yang diam-diam menetap.
Pada awalnya, semua tentang vespa terasa begitu asing dan sulit dipahami.
Namun perlahan, birla mengajarkan bahwa perjalanan tidak selalu tentang seberapa cepat, melainkan tentang bagaimana setiap proses dapat dinikmati dengan tenang. Menjalani hari bersama motor klasik ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ada rasa bingung bahkan ada saat ketika semuanya terasa putus asa.
Namun justru dari situlah muncul banyak cerita kecil sebab tidak semua perjalanan harus selalu mudah untuk bisa dikenang.
Salah satu hal yang paling menyenangkan adalah saat birla berada di jalan.
Sapaan kecil dari sesama pengendara, senyum sederhana, hingga pertemuan singkat di perjalanan menghadirkan hangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Sebab pada akhirnya, ini bukan hanya tentang kendaraan. Melainkan tentang cerita-cerita kecil yang perlahan tumbuh di sepanjang perjalanan.
~ coretan sederhana ~
Penulis : Dwi Yunita Rahma.
