Jarak Antara Gedung Megah dan Motor Butut.

27 November 2025

 Aktivitas perkuliahan mulai menyapa Rey Anggara, mahasiswa Jurusan Informatika di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya.

Drum... drum...

Suara motor bebeknya menyala, pertanda Rey akan segera berangkat. Setelah sarapan sederhana dengan telur ceplok dan nasi buatan sang ibu, ia melaju  kencang dengan motor Honda Supra X 125 keluaran Tahun 2005-an, motor kenangan dari almarhum sang ayah.

Tiga puluh menit kemudian, tibalah Rey  di depan kampusnya. Gedung-gedung megah nan tinggi berjajar rapi, lapangan luas, serta tempat-tempat praktikum seperti laboratorium Fisika, laboratorium Komputer, bahkan tempat praktik membuat robot pun ada. Rey tak pernah malu membawa motor tua itu ke tempat ia menimba ilmu. Baginya, keberadaannya di kampus ini bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang yang luar biasa.

Sejak ayahnya jatuh sakit selama ia duduk dibangku SMK, perekonomian keluarganya menurun drastis. Sebelumnya sang ayah bekerja di kantor pos, sedangkan ibunya berjualan sayur di pasar. Lantas saat ayahnya tidak bisa bekerja lagi, Rey membantu ibunya berjualan. Namun Takdir berkata lain, ayah Rey dipanggil sang Maha Kuasa saat Rey kelas 3 SMK.

Pada saat itu, Rey seperti hilang harapan untuk menempuh pendidikan tinggi karena sang donatur dihidupnya sudah tiada. Jika mengandalkan ibunya, Rey merasa kasihan. Jalan begitu buntu di depan Rey, dia seperti tak menemukan jalan pintas dihidupnya.

Ketukan pelan terdengar di pintu kamar Rey.

Tok tok tok

Langkah wanita yang selalu menyayangi Rey terdengar jelas masuk ke kamar Rey.

“Le kamu harus tetap kuliah, ini surat wasiat dari bapak, katanya kamu harus tetap kuliah. Ibu yakin pasti kamu bisa wujud-in keinginan bapak dan ibu Le,” Ucap Ibu dengan nada lirih sambil memberikan kertas kepada Rey, wajah agak sayu tapi tetap tersenyum demi anaknya.

Surat itu mengubah hidup Rey. Sejak hari itu ia bertekad masuk Institut Sepuluh November dengan beasiswa, dan ia berhasil.

 

Empat tahun berlalu. Rey kini menginjak semester delapan. Motor Supra X yang sama, HP yang sama, namun dirinya tak lagi sama. Hari-harinya kini di sibukkan dengan meneliti kasus untuk skripsi, mondar-mandir bimbingan, revisi, dan ke tukang fotokopi. Tak lupa selalu ditemani motor bebek kesayangannya.

Sampai akhirnya ia berhasil lulus dengan gelar sarjana dan predikat cumlaude. Ia mengangkat skripsi berjudul “Penerapan Algoritma Differential Evolution untuk Penyelesaian Permasalahan Vehicle Routing dengan Delivery dan Pick-up.”

Penelitiannya membahas penggunaan Algoritma Differential Evolution untuk menentukan rute kendaraan paling efisien dalam proses pengantaran dan pengambilan barang (delivery dan pick-up) agar jarak tempuh dan biaya distribusi menjadi minimal. Tak disangka, karya skripsinya mendapat pujian dari dosen pembimbingnya yaitu Pak Arya Casmito.

 

Hari wisuda tiba. Hujan membasahi semesta, rintik-rintik menetes perlahan mengiringi perjalanan manusia-manusia pribumi. Bulan November yang dingin ini, Para wisudawan terbaik berjajar rapi, termasuk Rey Anggara yang berdiri tegak. Jantungnya berdebar, bukan karena gugup, tapi karena rasa syukur yang meluap. Di tangan kanannya, ia menggenggam ijazah Sarjana Teknik (S.T.) berpredikat cumlaude dengan bangga.

Di sudut ruangan, tampak sang ibu dengan wajah berseri berbalut dress coklat dengan air mata bahagia membasahi pipinya. Di sampingnya, ia memeluk sebuah bingkai foto usang berisi foto Rey bersama almarhum ayahnya. Surat wasiat di hati mereka itu kini telah terwujud.

Setelah acara selesai, Rey segera menghampiri ibunya.

“Bu, ini untuk Ibu,” katanya sambil menyodorkan ijazah dan medali penghargaan.

Sang ibu menggeleng halus, “Ini untukmu, Le. Ini buah perjuanganmu, dan restu bapakmu.”

Mereka berpelukan, tawa dan tangis bercampur jadi satu.

Berkat skripsinya yang inovatif tentang Algoritma Optimasi Rute, Pak Arya merekomendasikan Rey ke sebuah perusahaan teknologi yang terkemuka. Tak butuh waktu lama, Rey langsung mendapatkan tawaran kerja dan resmi bekerja sebagai Spesialis Riset dan Optimasi Rute di sebuah perusahaan teknologi ternama.

Motor Supra X 125 warisan ayahnya kini kembali mengantarnya, bukan lagi ke gerbang kampus, melainkan ke gerbang kantor baru yang megah. Rey melihat spion sambil tersenyum, menyadari bahwa perjuangannya telah mengubah jarak antara “motor butut” dan “gedung megah” menjadi sebuah kisah sukses dan kebanggaan.


Penulis : Khoirina Muqtafia.

Kortributor : Jessika Artamevira.

Editor : Nadia Fitriani.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama