Aktivitas perkuliahan mulai menyapa Rey Anggara, mahasiswa Jurusan Informatika di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya.
Drum... drum...
Suara motor bebeknya menyala,
pertanda Rey akan segera berangkat. Setelah sarapan sederhana dengan telur
ceplok dan nasi buatan sang ibu, ia melaju
kencang dengan motor Honda Supra X 125 keluaran Tahun 2005-an, motor
kenangan dari almarhum sang ayah.
Tiga puluh menit kemudian,
tibalah Rey di depan kampusnya. Gedung-gedung
megah nan tinggi berjajar rapi, lapangan luas, serta tempat-tempat praktikum seperti
laboratorium Fisika, laboratorium Komputer, bahkan tempat praktik membuat robot
pun ada. Rey tak pernah malu membawa motor tua itu ke tempat ia menimba ilmu. Baginya,
keberadaannya di kampus ini bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang
yang luar biasa.
Sejak ayahnya jatuh sakit selama
ia duduk dibangku SMK, perekonomian keluarganya menurun drastis. Sebelumnya
sang ayah bekerja di kantor pos, sedangkan ibunya berjualan sayur di pasar.
Lantas saat ayahnya tidak bisa bekerja lagi, Rey membantu ibunya berjualan. Namun
Takdir berkata lain, ayah Rey dipanggil sang Maha Kuasa saat Rey kelas 3 SMK.
Pada saat itu, Rey seperti
hilang harapan untuk menempuh pendidikan tinggi karena sang donatur dihidupnya
sudah tiada. Jika mengandalkan ibunya, Rey merasa kasihan. Jalan begitu buntu
di depan Rey, dia seperti tak menemukan jalan pintas dihidupnya.
Ketukan pelan terdengar di
pintu kamar Rey.
Tok tok tok
Langkah wanita yang selalu
menyayangi Rey terdengar jelas masuk ke kamar Rey.
“Le kamu harus tetap kuliah,
ini surat wasiat dari bapak, katanya kamu harus tetap kuliah. Ibu yakin pasti
kamu bisa wujud-in keinginan bapak dan ibu Le,” Ucap Ibu dengan nada lirih
sambil memberikan kertas kepada Rey, wajah agak sayu tapi tetap tersenyum demi
anaknya.
Surat
itu mengubah hidup Rey. Sejak hari itu ia bertekad masuk Institut Sepuluh
November dengan beasiswa, dan ia berhasil.
Empat tahun berlalu. Rey kini
menginjak semester delapan. Motor Supra X yang sama, HP yang sama, namun dirinya
tak lagi sama. Hari-harinya kini di sibukkan dengan meneliti kasus untuk
skripsi, mondar-mandir bimbingan, revisi, dan ke tukang fotokopi. Tak lupa
selalu ditemani motor bebek kesayangannya.
Sampai akhirnya ia berhasil
lulus dengan gelar sarjana dan predikat cumlaude. Ia mengangkat skripsi
berjudul “Penerapan Algoritma Differential Evolution untuk Penyelesaian
Permasalahan Vehicle Routing dengan Delivery dan Pick-up.”
Penelitiannya
membahas penggunaan Algoritma Differential Evolution untuk menentukan rute
kendaraan paling efisien dalam proses pengantaran dan pengambilan barang
(delivery dan pick-up) agar jarak tempuh dan biaya distribusi
menjadi minimal. Tak disangka, karya skripsinya mendapat pujian dari dosen
pembimbingnya yaitu Pak Arya Casmito.
Hari wisuda tiba. Hujan
membasahi semesta, rintik-rintik menetes perlahan mengiringi perjalanan manusia-manusia
pribumi. Bulan November yang dingin ini, Para wisudawan terbaik berjajar rapi,
termasuk Rey Anggara yang berdiri tegak. Jantungnya berdebar, bukan karena
gugup, tapi karena rasa syukur yang meluap. Di tangan kanannya, ia menggenggam
ijazah Sarjana Teknik (S.T.) berpredikat cumlaude dengan bangga.
Di sudut ruangan, tampak
sang ibu dengan wajah berseri berbalut dress coklat dengan air mata bahagia
membasahi pipinya. Di sampingnya, ia memeluk sebuah bingkai foto usang berisi foto
Rey bersama almarhum ayahnya. Surat wasiat di hati mereka itu kini telah
terwujud.
Setelah acara selesai, Rey
segera menghampiri ibunya.
“Bu, ini untuk Ibu,”
katanya sambil menyodorkan ijazah dan medali penghargaan.
Sang ibu menggeleng halus,
“Ini untukmu, Le. Ini buah perjuanganmu, dan restu bapakmu.”
Mereka berpelukan, tawa dan
tangis bercampur jadi satu.
Berkat skripsinya yang
inovatif tentang Algoritma Optimasi Rute, Pak Arya merekomendasikan Rey
ke sebuah perusahaan teknologi yang terkemuka. Tak butuh waktu lama, Rey
langsung mendapatkan tawaran kerja dan resmi bekerja sebagai Spesialis Riset
dan Optimasi Rute di sebuah perusahaan teknologi ternama.
Motor Supra X 125 warisan
ayahnya kini kembali mengantarnya, bukan lagi ke gerbang kampus, melainkan ke
gerbang kantor baru yang megah. Rey melihat spion sambil tersenyum, menyadari
bahwa perjuangannya telah mengubah jarak antara “motor butut” dan “gedung
megah” menjadi sebuah kisah sukses dan kebanggaan.
Penulis : Khoirina Muqtafia.
Kortributor : Jessika Artamevira.
Editor : Nadia Fitriani.
